Bogor.bentengkeadilannews.com. Kisah bocah 12 tahun di Cibinong, Bogor, yang ditemukan kakeknya meninggal dunia dalam keadaan tergantung pada hari Selasa 18 Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan sebuah keluarga, terkadang ada persoalan yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Handphone yang bagi sebagian anak mungkin hanya sebuah benda untuk bermain dan berkomunikasi, bagi korban ternyata memiliki arti tersendiri. Ia disebut beberapa kali meminta orang tuanya menebus kembali handphone yang digadaikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Di sinilah realita kehidupan terasa begitu pahit. Ketika kebutuhan makan lebih mendesak daripada keinginan seorang anak, orang tua terpaksa memilih bertahan hidup hari ini meski harus mengorbankan sesuatu yang berharga bagi anaknya.
Yang paling menyedihkan, persoalan tersebut terjadi di tengah keterbatasan pengawasan. Kedua orang tua bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara sang anak berada di rumah bersama adiknya yang masih kecil.
Namun, penting untuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa persoalan handphone atau kondisi ekonomi merupakan penyebab kematian korban. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui faktor sebenarnya. Karena itu, tragedi ini seharusnya tidak dijadikan ruang untuk menghakimi keluarga, melainkan momentum untuk melihat persoalan yang lebih luas.
Kemiskinan bukan sekadar soal tidak memiliki uang. Kemiskinan juga dapat menghadirkan tekanan, keterbatasan pilihan, dan situasi keluarga yang membuat perhatian terhadap anak menjadi tidak maksimal.
Di sisi lain, kisah ini mengingatkan kita bahwa anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar makanan, pakaian, dan pendidikan. Mereka juga membutuhkan perhatian, komunikasi, rasa aman, serta tempat untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Satu permintaan kecil dari seorang anak mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi orang tua yang sedang berjuang, permintaan itu bisa menjadi beban yang sulit dipenuhi.
Tragedi di Cibinong ini semestinya menjadi cermin bersama. Jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat kita lupa bahwa anak-anak juga sedang menjalani perjuangan mereka sendiri—perjuangan untuk tumbuh, memahami kehidupan, dan mencari perhatian dari orang-orang yang mereka cintai.
Pada akhirnya, musibah ini bukan hanya tentang seorang anak dan sebuah handphone. Ini tentang keluarga, keterbatasan ekonomi, perhatian terhadap anak, dan tanggung jawab sosial kita bersama.
Semoga kepergian korban menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak merasa didengar, diperhatikan, dan dilindungi. Sebab terkadang, yang paling dibutuhkan seorang anak bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan seseorang yang mau berhenti sejenak untuk mendengarkan isi hatinya.
Penulis : H. Akhmad Yusup
(Redaksi)
