Pidato Kenegaraan Dinilai Buta Realita : Aliansi Pandawa Sebut Data Pemerintah Lelucon Di Tengah Kepailitan Kabupaten Bogor

Bogor.bentengkeadilannews.com.
Aliansi Pandawa melayangkan kritik keras terhadap arah kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah yang dinilai kontradiktif dengan realitas kehidupan masyarakat bawah.

Hal ini merespons isi pidato dalam rapat paripurna DPR RI dan MPR RI kemarin yang dianggap tidak transparan serta gagal memotret ketimpangan sosial dan pendidikan yang semakin melebar.

Salah satu poin yang paling disorot adalah saat Presiden RI memberikan apresiasi kepada seorang pekerja harian pengupas kulit bawang asal Kabupaten Bogor.

Dalam pidatonya, disebutkan bahwa upah komoditas tersebut mencapai Rp700.000 per kilogram.

Aliansi Pandawa menilai pernyataan tersebut sebagai lelucon yang melukai hati masyarakat kecil.
“Menyebut upah kupas bawang Rp700.000 per kilogram itu absurd dan seperti lelucon di siang bolong.

Kenyataan di lapangan sangat jauh dan mengenaskan. Ini bukti nyata bahwa pejabat negara hanya bicara berdasarkan laporan di atas kertas yang dipoles, bukan fakta empiris,” tegas perwakilan Aliansi Pandawa dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (15/8/2026).

Aliansi Pandawa juga menyoroti kondisi Kabupaten Bogor yang saat ini sedang dalam masa sulit dan berada di ambang pailit secara ekonomi.

Angka putus sekolah, pengangguran, dan ketimpangan sosial di wilayah mendasar terus meningkat, bertolak belakang dengan klaim keberhasilan yang disampaikan di ruang sidang paripurna.

Masyarakat bawah kini meragukan validitas berbagai laporan formal seperti data Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Aliansi Pandawa menilai terdapat banyak kontradiksi antara indikator makro yang dipamerkan pemerintah dengan kondisi isi dompet dan dapur rakyat yang sesungguhnya.

“Kami adalah rakyat yang merasakan langsung perihnya kebijakan yang tumpang tindih dan kontradiktif ini. Cukup jadikan penderitaan kami sebagai komoditas pidato politik.

Pemerintah Pusat dan Pemkab Bogor harus segera bangun dari tidur dan melihat realitas, bukan terus berlindung di balik angka-angka manipulatif,” tutup pernyataan tersebut.

(Redaksi)